Guru SMP/sederajat dan SMA/sederajat : 2 Bidang (Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan dan Bidang Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Teknologi)
PERSYARATAN
Peserta adalah guru yang mengajar pada lembaga pendidikan formal.
Belum pernah menjadi pemenang LKIG dalam kurun waktu dua tahun terakhir.
Sistematika Penulisan: Abstrak, Pendahuluan, Metodologi, Isi/Pembahasan, Kesimpulan dan Daftar Pusaka
Menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, diketik HVS A4, berjarak 1 ½ spasi dengan jenis huruf Arial ukuran 11.
Karya ilmiah harus asli (bukan jiplakan/plagiat) dan belum/sedang diikutsertakan dalam lomba sejenis tingkat nasional.
Jumlah halaman karya ilmiah maksimal 25 halaman (termasuk sketsa/gambar/foto)
Melampirkan rekomendasi Kepala Sekolah dan Daftar Riwayat Hidup serta mencantumkan alamat dan nomor telepon/fax kantor/rumah/HP yang mudah dihubungi.
Karya ilmiah sebanyak 4 eksemplar (1 asli, 3 fotocopy) dan soft copy (CD) diterima panitia paling lambat tanggal 3 Juli 2010
Pada pojok kiri atas sampul ditulis tingkat dan bidang lomba yang diikuti
Warna sampul karya ilmiah: SD (merah), SMP Bidang IPSK (kuning), SMP Bidang MIPATEK (biru), SMA Bidang IPSK (hijau), dan SMA Bidang MIPATEK (oranye).
Karya ilmiah dan alat peraga yang diperlombakan menjadi milik panitia
Pengalaman indah yang tidak akan pernah terlupakan dalam hidup saya karena pada Rabu, 8 Desember 2009 dan 3 Maret 2010 saya mendapat kesempatan langka bernostalgia di sekolah saya dulu karena saya diundang oleh MGMP Sanggar 10 Wonogiri untuk berbagi pengalaman menulis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di kegiatan MGMP BERMUTU (Better Education through Reformed Management and ersal Teacher Upgrading) yang kebetulan dipusatkan di SMP N. 1 Purwantoro.
Dari sekian jenjang sekolah yang sempat saya lalui, di sekolah inilah saya merasa "besar".. Bagaimana saya tidak merasa "besar" karena di sekolah ini pula masa-masa "kejayaan" saya raih, tepatnya sekitar 24 th lalu. Ya, di sekolah ini mulai kelas II saya sempat mencapai puncak prestasi tertinggi. Saya masih ingat ketika kelas II saya sempat mendapat peringkat I paralel hingga saya mendapat hadiah yang luar biasa (pada waktu itu), yaitu bebas SPP selama 6 bulan. Kalau tidak salah ingat waktu itu per bulannya hanya Rp3.000,00. Dan masih terbayang jelas ekspresi kebanggaan Bapak saya ketika rapat walimurid, namanya disebut-sebut.
Meski saat kelulusan nilai saya jatuh tapi alhamdulillah saya masih menduduki peringkat 7 besar paralel, dan saya bisa dengan mudah melenggang masuk sekolah favorit di Ponorogo yaitu SMA I. Meski Bapak saya harus susah payah ngurus ijin Semarang –Surabaya, karena lintas propinsi.
Di SMP dulu semua pelajaran saya suka karena saya merasa semuanya menyenangkan, mulai Mengetik, Karawitan, Bahasa Indonesia (terutama sastra), IPA, IPS sampai Bahasa Inggris dan Matematika. Dua pelajaran terakhir inipula yang sering membuat saya “tersipu-sipu” dipuji karena sering mendapat nilai terbaik.
Tetapi yang sering membuat saya malu adalah pada pelajaran IPS saya pasti mendapat nilai yang rendah untuk nilai murni. Meski saya sudah berusaha belajar sampai ngumpulin soal-soal penyelesaian waktu itu saya tidak pernah mendapat nilai yang baik di pelajara ini. Padahal wali kelas saya waktu itu (Pak Mulyono) mengampu IPS. Bapak saya waktu itu juga sempat merasa “pekewuh” kala mengambil raport karena nilai IPS saya selalu terjelek di antara mapel lainnya. Di nilai EBTA NAS murni saya pun nilai IPS saya terjelek. Entahlah, saya sendiri juga heran meski belajar keras selalu saja nilai IPS saya yang terjelek.
Untuk Matematika di SMP dulu adalah pelajaran yang paling mengesankan. Tanpa mengabaikan jasa guru-guru Matematika yang lain, guru saya waktu itu (Pak Tanto) yang paling membuat saya berkesan. Beliau mengampu kelas saya saat saya kelas III. Dengan gaya dan caranya yang inovatif pelajaran Matematika bukan sesuatu yang menakutkan bagi saya dan teman-teman waktu itu. Satu hal yang sampai sekarang saya dan teman-teman masih ingat adalah cara beliau menyampaikan konsep Trigonometri tentang nilai-nilai Trigonometri Sin, Cos dan Tangen di tiap kuadran. Waktu itu untuk memudahkan kami mengingat nilai-nilai yang positif di tiap kuadran beliau membuat singkatan Co Tang Si Al, yaitu nilai-nilai positif mulai dari kuadran IV. Nilai-nilai itu mudah sekali diingat karena Co Tang (dibaca “kotang”, dalam bahasa Jawa “kotang” (maaf) sangat familiar dan berarti pakaian dalam (BH). Meski terkesan negatif tapi ternyata singkatan itu dulu banyak membantu teman-teman saya dalam menyelesaikan soal-soal Matematika (Trigonometri).
Sebenarnya banyak kisah-kisah lucu, menarik dan mengisnpirasi saya ketika SMP dulu, dan kisah-kisah itu kini ketika saya baru saja ketemu lagi dengan beliau-beliau sungguh masih tergambar jelas. Dan kebanggaan beliau atas apa yang saya capai sekarang ini adalah apresiasi yang luar biasa untuk saya selain doa restu beliau-beliau yang rela datang di hari pernikahan saya 10 tahun lalu.
Ketika bertemu kembali dengan beliau saya merasa, ternyata menjadi guru bisa awet muda. Nyatanya kala saya ketemu guru-guru saya, sepertinya masih sama dengan yang saya temui 24 tahun lalu. Apa muridnya yang cepet tua, entahlah. Yang jelas dari beliau-beliau inilah sampai saya bisa begini. Terimakasih Bapak/Ibu Guruku, engkau telah mengantarkanku mengikuti jejakmu yang sungguh mulia. Semoga jasamu menginspirasiku selamanya.
Hari Selasa, jam pertama adalah jadwal saya di kelas 9A Selama ini anak-anak kelas 9 A sudah paham betul kebiasaan saya. Saya paling tidak suka jika waktu mau mulai pelajaran anak-anak belum siap dan masih jadi "mandor" di depan kelas atau "inguk-inguk" di depan pintu. Anak-anak kelas lain pun, meski bukan kelas yang saya ampu, jika melihat saya lewat pada saat menjelang jam pelajaran mereka akan segera masuk kelas, karena mereka sudah tahu, pasti akan saya "oyak-oyak" untuk segera masuk. Ini adalah salah satu cara saya membiasakan mereka tertib, selain dalam hal kerapian berpakaian.
Kebiasaan saya ini sengaja saya terapkan karena untuk memulai belajar, semestinya anak-anak ditumbuhkan sikap dan kesadaran diri yang baik. Dan kesadaran diri ini akan tumbuh kalau dibiasakan.
Tapi hari itu Selasa, 23 Februari 2010 adalah hari yang hampir membuat saya tersipu malu. Bagaimana tidak, ketika saya masuk kelas 9A memang tidak ada anak-anak di depan pintu, tapi pas di kelas ada sekitar separuh anak perempuan belum duduk di mejanya. Ketika saya tanyakan ke mana mereka, sebagian menjawab di belakang. Ada juga yang menjawab "jajan bu". Jawaban terakhir ini yang membuat saya jengkel dan menahan marah.
Beruntung saya berusaha menahan diri, dan diam saja berdiri memandangi mereka. Anak-anak, juga diam tanpa ekspresi. Saat saya hanya diam tersebut, tiba-tiba dari depan pintu ada serombongan anak membawa kue ulangtahun. Satu kelas akhirnya mennyanyikan lagu ulang tahun untuk saya. Saking riuhnya kelas lain yang olahraga di lapangan sempat menengok ke kelas.
Dan untuk kedua kalinya saya hanya menangis haru... melihat ketulusan mereka.
Dua hari berturut-turut saya telah mendapat pelajaran berharga dari mereka. Terimakasih anak-anakku, di balik kenakalan dan ulah mereka yang kadang membuat saya jengkel. Mereka berhati mulia. Mereka telah memberikan pelajaran berharga tentang berbagi dan menghargai kepada gurunya dengan cara mereka. Meski tanpa inipun anak-anak sudah menunjukkan bahwa apa yang saya tanamkan selam ini, telah menyentuh sanubari mereka. Meski prestasi akademik mereka belum maksimal, tapi paling tidak rasa kebersamaan dan penghargaan mereka kepada orang lain, merupakan nilai yang lebih berharga dari segalanya.
PELAJARAN BERHARGA TETANG MAKNA BERBAGI DAN MENGHARGAI (1)
Seperti biasa hari Senin (22 Feb 2010) saya masuk kelas VIII A pada jam ketiga. Saya agak molor dari biasanya karena ketika di luar banyak anak-anak yang menghampiri untuk sekedar mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya seperti pada ulang tahun saya sebelumnya.
Saat memasuki kelas VIII A seperti biasa saya menyapa anak-anak dan tak lupa mengucapkan termakasih kepada anak-anak dan beberapa orang tuanya yang telah mengirimkan sms dan menulis di wall FB saya malam dan pagi harinya. Saya juga menyampaikan syukur tak terhingga bahwa ternyata masih banyak sekali yang peduli dengan saya, terbukti dengan banyaknya pesan lewat wall FB yang lebih dari 100- an. Ketika saya sampaikan ucapan terimakasih untuk diteruskan ke orangtuanya. Semua anak-anak cuma diam dan tanpa ekspresi.
Saya melanjutkan pelajaran seperti biasa. Kebetulan hari itu materinya melukis lingkaran luar dan lingkaran dalam segitiga. Anak-anak ya asyik saja melukis sesuai yang saya tunjukkan. Sampai saatnya istirahat saya juga masih bertanya-tanya dalam hati. "Kok, anak kelas VIII A nggak ada yang nyalami saya", padahal pagi harinya banyak yang ngirim SMS.
Pertanyaan itu akhirnya terjawab ketika sehabis istirahat pertama hanya ada satu anak yang megangin pintu. Dan ketika saya mau masuk, dilarang "Bentar bu, tunggu lima menit saja". Setelah lima menit, belu sempat masuk saya sudah curiga, ada sesuatu karena semua korden di tutup rapat., hingga kelas hanya remang-remang. Dan ternyata... sambutan meriah tulisan besar-besar di papan tulis dan kue tar plus lilin di atasnya sudah menantidi atas meja guru...Nyanyian ulang tahunpun menggema di ruang kelask saya pagi itu.
Saya tak mampu berkata apa-apa selain berdiri terpaku. Tak terasa saya menangis haru. Acara selanjutnya saya hanya menurut saja ketika anak-anak meminta saya memotong kue. Dan seperti sutradara seinetron mereka mengarahkan saya untuk membagikan kue kepada anak-anak untuk difoto satu per satu. Sore harinya foto-foto mereka sebagian sudah saya upload dalam album di FB saya.
Terimakasih anak-anakku, kau telah memberi pelajaran yang begitu indah kepada gurumu.
Kutipan Karya: Juara II LKG Tk Nasional 2009 (Kel Sains):
PENDEKATAN I-TESA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN SIKAP POSITIF DAN HASIL BELAJAR TEOREMA PYTHAGORAS
Materi pembelajaran Teorema Pythagoras merupakan materi pembelajaran kelas VIII SMP semester II yang berkaitan dengan konsep geometri. Pola pengajaran Pythagoras yang sering dilakukan guru selama ini adalah siswa hanya diberikan rumus untuk dihapal bahwa “jumlah luas persegi pada sisi siku-siku = luas persegi pada sisi miring” atau “jumlah kuadrat sisi siku-siku = kuadrat sisi miring”, dengan sering menuliskan a2 + b2 = c2.
Rumus tersebut seringkali membingungkan siswa karena ketika nama sisi-sisnya diubah siswa mengalami kesulitan untuk menyatakan hubungan sisi-sisinya. Atau jika gambar segitiga siku-sikunya posisinya diubah siswa sering menganggap bahwa sisi miring adalah sisi siku-sikunya.
Hal ini sebagai akibat dari pembelajaran selama ini cenderung disampaikan kepada siswa dengan cara praktis tanpa inovasi sehingga siswa tidak memahaminya secara total. Siswa hanya menghapal rumus tapi tidak paham penggunaan rumus tersebut.
Hal ini tidak terlepas pada orientasi pendidikan kita selama ini yang lebih mengedepankan aspek kognitif (UN) dan mengabaikan aspek lainnya. Kadang-kadang kondisi ini membuat guru apatis karena dengan cara praktis saja target kurikulum tidak tercapai, apalagi harus melakukan inovasi.
Namun sebenarnya banyak cara bisa kita coba maksimalkan untuk melakukan inovasi seperti yang telah coba saya lakukan, khususnya untuk materi pembelajaran berkaitan dengan Teorema Pythagoras. Jika selama ini pembuktian Pythagoras lebih banyak menggunakan perhitungan dengan persegi satuan atau model ”gunting – tempel”, saya mencoba mengggunakan media lain yaitu manik-manik (bisa biji-bijian atau apa saja) dan barang-barang bekas yang dibuat siswa seperti pada gambar. Selain itu juga dilakukan simulasi dengan menggunakan software Geogebra yang bisa didownload secara gratis.
Proses pembelajaran yang berlangsung menggunakan pendekatan penemuan terbimbing dengan model campuran kooperatif. Dalam pembelajaran ini selain siswa belajar melalui pemahaman, siswa juga dilatih untuk bekerjasama, toleransi dan keberanian dalam mengemukakan pendapat (presentasi).
Pembelajaran tersebut telah saya angkat dalam PTK (penelitian tindakan kelas) hingga saya mendapat kesempatan di Lomba Keberhasilan Guru (LKG) Tingkat Nasional Tahun 2009 kemarin.
Rehat sejenak untuk kembali mengajar, ternyata dalam waktu bersamaan saya mendapat pemberitahuan untuk mengikuti final Lomba Kreasi dan Inovasi Media di Cipayung (9 – 13 November 2009) dan Lomba Inovasi Pembelajaran di Semarang (10 – 12 November 2009). Karena waktu bersamaaan akhirnya saya memilih berangkat ke Cipayung dan meninggalkan even lomba yang tingkat provinsi.
Meski dengan kondisi yang tidak fit saya bisa mengikuti kegiatan final dengan baik. Alhamdulillah meski sempat kecewa dengan kriteria penilaian media yang tidak begitu jelas saya bersyukur mendapat kesempatan di antara 30 orang pemenang (dari 6 mata pelajaran) diundang Mendiknas (Bp. Muh Nuh) dan Dirjen Pembinaan SMP (Prof Suyanto) untuk dialog di gedung Depdiknas di Senayan sehingga saya harus menginap lagi semalam di Jakarta sementara peserta lain bisa pulang. Di sela-sela dialog dengan Pak Dirjen ini pula saya kembali bersemangat karena dihubungi panitia bahwa naskah saya masuk final LKG 2009.
Pagi harinya saat mau pulang meninggalkan hotel Melawai Blok M saya sudah dihubungi suami bahwa ada surat tugas lagi dari Dinas DIKPORA Solo untuk mengikuti Diseminasi Hasil Lomba Provinsi (23 November 2009) yang kegiatan lombanya sendiri tidak sempat saya ikuti. Kegiatan ini ternyata berbuntut juga dengan undangan Seminar Nasional dalam rangka Hari Guru (26 Desember 2009), hingga baru 2 hari masuk sekolah saya harus meninggalkan anak didik saya lagi.
Perjalanan "dinas" saya di tahun 2009 berakhir ketika tanggal (28 Nov – 2 Des 2009) kemarin saya mengikuti Final LKG Tk Nasional 2009 yang diselingi dengan Puncak Peringatan Hari Guru tanggal 1 Desember 2009 bersama Presiden SBY di lapangan Tenis Indoor Senayan. Alhamdulillah meski pemenangnya tidak dikategori per mata pelajaran (seperti tahun 2008) saya sangat bersyukur mendapat kesempatan di urutan ke-2 untuk kelompok SMP Sains (Matematika, Fisika dan Biologi).
Barangkali akhir tahun 2009 kemarin benar-benar saya syukuri sebagai “Hari Guru” untuk saya karena kesempatan yang diberikan Allah SWT yang begitu luar biasa untuk saya. Meski di hati saya timbul rasa bersalah harus meninggalkan anak didik, namun saya berpikir kesempatan tidak akan datang dua kali. Saya rasa ini juga proses belajar saya yang pada akhirnya untuk meningkatkan kualitas pelayanan untuk anak didik saya. Berulangkali saya bersyukur dengan materi yang saya desain sedemikian rupa mereka bisa belajar meski tanpa saya hadir di hadapan mereka.
Mungkin itulah jejak-jejak “pembenaran” yang bisa saya gunakan untuk menyapa para sahabat blogger yang barangkali sudah hampir melupakan saya. Oleh-oleh dari masing-masing perjalanan saya insyallah akan meramaikan blog ini berikutnya dan mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi pembaca yang membutuhkan.
Akhirnya di awal tahun 2010 ini saya bisa menyapa para sahabat bloggerdan menengok blog saya lagi setelah berbulan-bulan lamanya saya biarkan terbengkalai. Barangkali seperti halnya kebiasaan orang-orang yang tidak pandai memenej waktu seperti saya, sayapun berusaha mencari “pembenaran” dari aktifitas “safari keliling” (sindiran sahabat saya di Facebook) yang telah saya jalani.
Semester 1 tahun pelajaran2009/2010 merupakan bulan-bulan yang sangat membuat saya (sok) sibuk luar biasa. Belum selesai “kontrak” saya di Program Sertifikasi Jalur Pendidikan UNY saya sudah harus memegang amanah untuk mengajar 24 jam di sekolah sementara ujian akhir sertifikasi juga memerlukan persiapan yang tidak kalah penting.Sejak saat itu saya sulit membagi waktusehingga tidak bias menuliskan jejak-jejak aktifitas saya di blog.
Maklum sambil mempersiapkan ujian di UNY saya juga menyempat-nyempatkan diri untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan menyiapkan laporannya untuk mengadu nasib di LKG 2009 yang ternyata deadline 30 Agustus (dimajukan 1 bulan disbanding tahun 2008). Meski merepotkan ternyata even-even semacam LKG kok sayang untuk ditinggalkan. Belum lagi dapat info baru lomba yang lain lagi yaitu Lomba Kreasi dan Inovasi Media Pembelajaran SMP TK Nasional dan Lomba Karya Ilmiah Inovasi Pembelajaran tingkat Propinsi yang deadlinenya bareng tanggal 30 September 2009. Namanya trial error saya mengirimkan naskah untuk ketiga evn sekaligus. Alhamdulillah meski dengan susah payahdan harus begadang di bulan puasa, dengan hasil karya yang tidak saya bisa mengirimkan naskah “tepat waktu” (pas batas akhir pengirman).
Sedikit lega bisa istirahat beberapa hari, disusul kegiatan pemberdayaan MGMP Matematika di mana saya kejatah untuk mengisi materi TIK termasuk mengajak guru GO BLOG. Meski modal pengetahuan pas-pas-an alhamdulilah para peserta juga merasa puas dan saya berhasil memprovokatori rekan-rekan saya di Solo agar tidak gaptek. Alhamdulillah di antara mereka banyak yang berlanjut sharing di email dan facebook, danberdiskusi masalah pembelajaran matematika.
Di sela-sela itu ternyata dapat mandat untuk mewakili koperasi sekolah mengikuti Bimbingan Teknis Pengurus Koperasi di Semarang dilanjutkan kunjungan lapangan ke Kab. Pati Rembang dan Kudus (19 – 24 Oktober 2009). Belum sempat pulang ke rumah dah nyusul pemberitahuan lagi untuk “Pengukuhan sebagai Guru (Insyaallah) Profesional” di UNY tanggal 26 Oktober 2009.
Kala kita pintar dan bijak kita ingin menguasai diri kita sendiri.
Kutipan di atassaya contek dari salah satu buku favorit saya, karya Rhenald Kasali yang berjudul CHANGE, tentang manajemen perubahan. Buku setebal 456 halaman ini sering menemani saya, ke mana saya pergi. Hampir 75 persen halamannya saya baca (sambil lalu) dalam kereta Prameks saat sayabolak balik mengikuti pendidikan sertifikasi di Universitas Negeri Yogyakarta. Banyak hal yang menginspirasi saya sejak membaca buku itu, meski ide-ide yang muncul timbul tenggelam dalam otak saya.
Banyak juga rekan-rekan (pendidik) yang merasa aneh ketika saya membaca buku ini, karena dipikir ini bukunya orang “bisnis”. Namun kala saya membacanya, banyak hal sebenarnya dari buku ini yang bisa diterapkan dalam kehidupan bidang apa saja termasuk lingkungan pendidikan (Nggak promosi lho…).
Ketika membacanya saya merasa “tersinggung”, karena banyak kebiasaan-kebiasaan saya yang menghambat proses “perubahan” dalam diri saya ternyata pas dengan apa yang ditulis dalam buku ini.
Kali ini ketika saya bolak-balik lagisaya jadi tertarik dengan kutipan di awal tulisan ini. Intinya saya sedang ingin belajar bagaimanakita menjadi “bijak”agar bisa memenej diri kita dengan baik. Ternyata hal yang satu ini sulit sekali kita (saya) lakukan meski secara teori saya dulu pernah kuliah manajemen.
Tulisan ini saya maksudkan sebagai motivasi untuk diri saya sendiri, syukur-syukur orang lain bisa memanfaatkan hal-hal yang sesuai. Hitung-hitung ini sebagai salah satu sarana “TERAPI DIRI” berkaitan dengan kebiasaan jelek saya yang susah dapat ide kalau belum “dikejar-kejar deadline” alias “kepepet”. Kuncinya adalahDISIPLIN DIRI. Dan itulah satu hal yang bisa saya ambil dari buku tersebut. Sebagian isinya pun saya pernah dengar juga dari ceramahnya Aa Gym beberapa tahun lalu, kalau tidak salah beliau menyebutnya 3M (mulai dari diri sendiri, mulai dari yang terkecil, dan mulai dari sekarang).
Hampir semua perubahan besardi dunia berhasil dijalankan oleh pemimpin besar. Dan jika dilihatdari lembar-lembar sejarah para pelaku perubahan (change maker), memiliki sesuatu yangtidak banyak dimiliki oleh orang lain adalah DISIPLIN DIRI. Mereka sepakat sebelummemimpin orang lain mereka harus memimpin diri sendiri. Dalam buku tersebut diberikan tips untuk membangun disiplin diri yang bersumberdari karya John C. Maxwell (1993). Developing the Leader, Within Yousebagai berikut:
Mulailah dengan diri sendiri (Start With Yourself).
Para pemimpin besar dunia memulai dengan dirinya sendiri, maka kita pun harus demikian. Prinsipnya selalu melakukan intropeksi dan menuntut diri sendirisebelum menuntut orang lain.
Jangan berorientasi pada pesaing, berorientasilah pada diri kita sendiri
Selama kitaberorientasi pada pesaing, kita akan cepat panikdan tidak melakukan apa-apaselain menunjukkan pada orang lain, bahwa pesaing kita “buruk rupa”. Dengan kata lain, kita ingin memanipulasi “pendapat”. Kita kelihatan hebat kalau orang lain terlihat bodoh. Ini tidak dapat dibenarkan, sebab ketika pesaing kita hilang maka yang terlihat bodoh diri kita sendiri.
Jangan menunda, lakukan sedini mungkin (Start Early)
Hampir sebagian dari kita (termasuk saya)mempunyai kebiasaan buruk, belajar di hari terakhir sebelum kita ujian dan berpikir keras sesaat sebelum keputusan diambil. Di Meksiko, orang-orang berperangai burukdikenal sebagaipenganut Maniana (besok) Principle “Kalau bisa dipikirkan besok, mengapa harusdikerjakan hari ini?”. Nyatanya hidup mereka tak pernah sejahtera. Hal serupa juga banyak dijumpai di lingkungan sekitar kita. Segala sesuatu tidak dipikirkan sedini mungkin, melainkan baru sibuk kalau musibah terjadi. Akibatnya hasil yang dicapai tidak pernah optimal, dan banyak menghadapi kegagalan dan frustasi. Manusia yang cinta perubahan tak boleh menunda-nunda. Mereka harus menganut cara kerja orang besar: kerja keras, manajemen waktu,persisten (tahan uji), bertanggungjawab, danbersikap positif, apapun juga situasinya.
Mulailah dari hal-hal kecil (Start Small)
Hal-hal kecil yang kita kerjakan sekarang, akan menjadi pegangan kita di hari esok. Kata orang bijak, langkah-langkah kecil akan menentukan langkah-langkah besar. Mulailah dengan rencana-rencana kecil, sekecil apapun yang bisa anda kerjakan, namun membuat anda dan sekeliling anda tumbuh. Perubahan tidak dapat dilakukan seketika menjadi lompatan besar, melainkan harus dimulai dengan hal-hal kecil di sekitar kita.
Mulailahsekarang juga (Start Now)
Sekarang, bukan nanti selesai rapat, kalau semua sudah pulang, kalau sudah pensiun, dan seterusnya. Perubahan harus dimulai dari anda sekarang juga.