(R)SBI = (Rintisan)Sekolah "BERTARIF" Internasional...?

-->
Di saat kita harus prihatin memikirkan nasib siswa miskin yang lambat belajar masih sulit mendapatkan pendidikan yang layak , ternyata banyak orangtua rela merogoh kocek yang tidak sedikit agar anaknya bisa masuk Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). Banyak orangtua sendiri sebenarnya tidak paham betul apa itu SBI. Barangkali namanya yang “kebarat-baratan” inilah yang menarik minat banyak orangtua berduit untuk menjaga gengsi mereka.
(R)SBI sebenarnya dirancang pemerintah untuk mengejar ketertinggalan dengan bangsa lain di era globalisasi ini. Proyek rintisannya saja telah menyertakan ratusan SMP dan SMA di hampir semua Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia. Tidak tanggung-tanggung pemerintah sudah mengeluarkan dana ratusan milyar untuk mensukseskan program yang prestisius ini. Khabarnya dibiayai oleh Pemerintah Pusat 50%, Pemerintah Propinsi 30 %, dan Pemerintah Kabupaten/Kota 20%. Untuk setiap sekolah pada masa rintisan saja Pemerintah Pusat mengeluarkan 300 juta rupiah tiap sekolah setiap tahun paling tidak selama 3 (tiga) tahun dalam masa rintisan tersebut.
Kriteria siswa yang bisa masuk RSBI ini pun juga tidak sembarangan. Siswa yang bisa masuk ke sekolah tersebut, adalah mereka yang dianggap sebagai bibit-bibit unggul yang telah diseleksi ketat dan yang akan diperlakukan secara khusus. Sayangnya dalam praktek ternyata aturan ini juga tidak ketat betul. Nyatanya masih ada saja beberapa siswa yang bisa “nyelonong” masuk, meski mereka tidak memenuhi syarat.
Jumlah siswa antara 24-30 per kelas. Kegiatan belajar mengajarnya akan menggunakan bilingual (bahasa Inggris dan bahasa Indonesia). Karena dianggap bibit unggul maka siswa diprioritaskan untuk menguasai teknologi informasi dan komunikasi (ICT). Oleh karenanya, siswa kelas khusus ini diberi fasilitas belajar tambahan berupa komputer dengan sambungan internet. Sedangkan proses belajar mengajar dan kurikulumnya untuk “berstandar nasional” sampai saat ini sebenarnya masih “kabur”. SBI disebutkan berkurikulum standar nasional Plus. Plusnya sendiri merupakan materi pengembangan yang diadopsi dari standar pendidikan dalam dan luar yang diyakini telah memiliki reputasi mutu dan diakui secara internasional.
Apakah SBI mampu menjawab ketertinggalan pendidikan kita untuk bertaraf internasional? Tunggu dulu. Barangkali kalau yang dimaksud di sini TARIF-nya berstandar internasional, banyak orang akan mengamini. Tetapi soal mutu proses pembelajaran siapa yang menjamin…? Konsep SBI sendiri barangkali bagus, sayangnya kenyataan dan harapan sering bertolak belakang. Dan ini sepertinya sudah menjadi ciri khas dunia pendidikan di negeri kita. Banyak kebijakan yang ambisius dan muluk-muluk tapi implementasinya asal jalan.
Indikator standar nasional rasa-rasanya tidak cukup terwakili dengan hanya gedung bagus, fasilitas lengkap, tapi juga mutu sumber daya manusia (SDM) sebagai pelaksana di lapangan. Dengan kriteria siswa yang demikian ideal sudah seharusnya RSBI juga didukung oleh SDM yang ideal termasuk guru-gurunya. Sayangnya di lapangan harapan itu terasa “njomplang”, manakala guru-gurunya masih “seperti yang dulu”.
Seperti diketahui bahwa mayoritas sekolah yang masuk kategori R/SBI adalah sekolah-sekolah “senior” dengan embel-embel “favorit” yang notabene inputnya secara akademik juga merupakan “the best student” dengan standar kecerdasan tertentu dari jenjang sebelumnya. Selama ini ada beberapa (oknum) guru yang sudah merasa nyaman dengan mengajar siswa-siswa yang unggul secara akademik, sehingga mereka lupa untuk sekedar meng”upgrade” ilmunya. Tidak jarang banyak guru-guru dengan “the best student” ini banyak yang belum “melek” tehnologi, sementara siswa-siswanya karena mayoritas anak orang berada, tehnologi sudah menjadi santapan sehari-hari.
Pernah kenalan saya mengeluh ketika anaknya yang sekolah di SMA SBI mendapat “PR” dari guru Biologi di sekolahnya karena sang guru mendapat pertanyaan tak terduga dari seorang murid tentang transeksual (pergantia jenis kelamin). Karena tidak tahu sang guru meminta anak kenalan saya tadi yang kebetulan dokter untuk membuatkan makalah tentang seluk beluk transeksual. Si anak, karena beban tugasnya sudah banyak dan itu bukan tugas pokok mata pelajaran, akhirnya PR tersebut diserahkan orangtuanya. Ujung-ujungnya orangtuanya yang mengeluh karena merasa anaknya dimanfaatkan sang guru.
Pengalaman lain ketika saya bertemu dengan rekan yang kebetulan mengajar di SBI. Malah rekan saya ini mengeluh karena kesulitan mengolah materi-materi yang relevan karena minimnya referensi. Padahal sepengetahuan saya untuk sumber-sumber referensi macam matapelajaran matematika justru banyak bertebaran di internet lengkap dengan Lesson Plan (RPP)nya. Ternyata, selama 2 tahun mulai mengajar sejak sekolahnya berstatus RSBI, rekan saya ini sama sekali belum pernah nyentuh yang namanya internet, padahal di ruang guru difasilitasi internet.
Memang ada satu dua orang guru yang tetap berusaha “smart” dengan selalu belajar dan bertanya, tetapi sayang mereka tenggelam oleh rekan-rekannya yang kurang minat belajar tapi lebih berminat menambah penghasilan.
Kendala berikutnya soal penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Hal ini ternyata banyak menjadi kendala ketika guru mengajar di lapangan. Guru-guru Bahasa Inggris di sekolah “favorit” saja kadang masih belepotan ngomong bahasa Inggris, apalagi guru mata pelajaran lain. Bahkan banyak guru dalam berkomunikasi dengan bahasa Inggris ini kalah fasih dengan muridnya. Menggunakan bahasa Indonesia saja kadang muridnya tidak paham, apalagi dengan bahasa Inggris yang pas-pasan.
Selain itu adanya asumsi yang keliru, bahwa RSBI selalu identik dengan penggunaan media yang canggih (Laptop, LCD, VCD). Padahal dari video youtube yang pernah saya temukan di dunia maya ini negara-negara maju ini tidak melulu menggunakan media canggih sebagai alat belajarnya. Nyatanya mereka unggul juga secara mutu.
Sebagai ilustrasi untuk mengajarkan cara membuktikan Teorema Pythagoras di salah satu jurnal NCTM murid diajak memanfaatkan permen yang ditata dalam 2 kotak karton yang pada masing-masing sisi siku-siku segitiga. Dengan memindahkan permen ke kotak pada sisi miring, maka siswa sudah diarahkan membuktikan Teorema Pythagoras itu.
Menurut hemat saya program RSBI lebih mengutamakan alat daripada proses pembelajarannya. Dan lagi-lagi ini menjadi ciri khas di Indonesia. Sementara sekolah-sekolah yang sudah “sesak nafas” dibiarkan mati pelan-pelan, terbukti sekolah-sekolah macam RSBI ini malah justru disuplai dana besar-besaran. Tetapi sayang ibarat gadis bersolek penggunaan dananya hanya untuk “mempertebal bedak di muka” sehingga inner beautynya belum nampak. Banyak (kepala) sekolah yang memanfaatkan dana ini untuk pengembangan fisik sekolah daripada meningkatkan profesionalisme guru-gurunya. Dan sayang sekali, dengan tambahan honor yang lumayan banyak guru hanya “manut” dan ikut “mengalir” begitu saja, yang penting kocek terisi.
Mengingat banyaknya ketimpangan antara harapan dan kenyataan di lapangan, sudah semestinya program yang “sok kebarat-baratan” ini perlu ditinjau dan dievaluasi kembali. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan agar mampu bersaing dengan negara lain tidak berarti segala-galanya harus berkiblat ke negara asing. Saya pribadi justru makin khawatir ini akan bertolak belakang dengan filosofi pendidikan yang telah dirintis pahlawan pendidikan Ki Hajar Dewantoro. Kekhawatiran lain juga rasa nasionalisme generasi penerus bangsa akan semakin hilang dan tidak peduli pada nasib bangsa sendiri. Karena dengan pengkotak-kotakan pendidikan dengan berbagai macam embel-embel standar ini akan justru makin menegaskan paham diskriminatif dan eksklusif, sehingga makin menjauhkan usaha pemerataan pendidikan yang menjadi cita-cita anak bangsa.

17 komentar:

NURA mengatakan...

salam sobat,,ikut prihatin dengan kakak mba Yati yang sakit semoga lekas sehat ya..

komentar: semoga sekolah BSI segera terwujud ya mba,,agar dapat mengejar ketertinggalannya selama ini, serta seluruh rakyat INDONESIA semakin unggul dan bisa mengalahkan prestasi pendidikan di luar negeri. Tetap semangat ya ibu guru,, saya ikut mendukung SBI.

NURA mengatakan...

maaf terbalik mba,,,maksud saya "SBI"

CsDw mengatakan...

Yu, njenengan nek gelem lan lila jupuken award neng nggonaku yo http://wandisukoharjo.wordpress.com/2009/07/14/award-tkb/

buwel mengatakan...

setuju mbak...semoga SBI bukan bertarif internasional tapi bertaraf internasional ya...hehehehe

RanggaGoBloG mengatakan...

salam kenal buguru... :D semoga indonesia jadi lebih baik dengan pendidikan murah sampai ke tingkat perguruan tinggi...

sawali tuhusetya mengatakan...

doh, saya sedih ketika RSBI bukannya didesain utk mencerdaskan anak bangsa, smealinkan sekadar membuat sebuah pencitraanb lewat bahas apengantar bahasa asing. padahal sesungguhnya, bukan pada esensi bahasanya yang bisa digunakan sbg indikatir utk menentukan berstandar internasional atau tidak, tapi juga kelengkapan dan piranti yang lain, mulai SDM gurunya, input siswanya, sarprasnya, atau kultur sekolahnya. jadi repot ya bu kalau mind-set pencitraan seperti itu ndak pernah berubah sejak jadul.

reni mengatakan...

Wow... ulasan yg mendalam lengkap dg bukti-2 di lapangan membuatku jadi bener-2 bisa melihat kedudukan SBI secara lebih jelas. Selama ini aku memang belum memiliki pemahaman yg gamblang tentang SBI ini.
Terima kasih mbak... tulisan yg tajam sekali.

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

Moga sang Kakak lekas sembuh yah mbak,..

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

Masalah SBI, ditempat saya kejadiannya mirip2 seperti itu juga.
Emang dilematis.,....

sanur mengatakan...

harapan saya semoga tidak salam sasaran dan memang mengakomodasi para pelajar dengan kondisi ekomomi lemah......sekolah berstandar semoga tidak hanya menjadi atang saling memamerkan prestise namun menjadi wajah bagi para siswa dan guru gurunya untukberprestasi

wongapik mengatakan...

SBI memang bagus.. tapi lebih bagus lagi kalo bisa murah..

jangan kan tuk sekolah tuk playgroup aja dah jutaan...

heheeee... nice sharing bu...

Mulyati mengatakan...

@Nura: Trimakasih mbak apresiasinya.Saya juga berharap bangsa kita tetep bisa unggul meski tidak sekolah di SBI
@CsDw: Dengan senang hati tak ambil dik
@buwel: harapannya juga begitu mas...
@RanggaGoBlog: Terimakasih mas... Salam kenal juga...
@Sawali: Betul pak... emang repot kok selama ini, tapi inilah Indonesia...
@Reni: terimakasih mbak apresiasinya, hanya sekedar sharing agar kita bisa lebih peduli dan realistis.
@Seti@wan: Amiin bang doanya... Memang betul bang kadang guru yang lebih banyak menikmaati dilemanya...
@sanur: kita juga berharap demikian mas... terimakasih dah mampir
@wongapik: betul sekali mas... lantas ke mana ya orang miskin besok sekolah? paling ya dapat sekolah-2an he...he...

ajeng mengatakan...

Wah,isi kepala kita kok bisa sama ya ya Mbak? Fenomena SBI sekarang ini memang memprihatinkan,dilematis. Karena tujuan SBI yg sebenarnya menjadi makin buram dan kabur..

Btw,maaf baru bisa mampir. Apa kabar mbak? Semoga lekas sembuh njih..

Irwan Rozanie mengatakan...

Jadi muncul pertanyaan, apakah tuntutan SBI di atas zone of proximal development guru-guru di Indonesia?Bagi guru yang tak ingin mengembangkan kompetensinya mungkin benar... seperti yang ditulis bu Mulyanti. Tapi banyak juga guru yang memang kompetensinya OK dan layak ditempatkan di SBI. Cuma bisa berkata:"bangun semangat dan motivasi tuk maju dan tunjukan etos kerjamu.. wahai guru.

Mulyati mengatakan...

@Ajeng: Mungkin aja kita "wetone" sama mbak... dan kayaknya juga sama kita suka yang "pedhes-pedhes". Tapi sayangnya mau bagi-2 susah ya...
@Irwan Rozanie: Yah itulah pak pendidikan di Indonesia. Setuju, memang bener harusnya guru-2 yang berkompeten dan mau belajar lebih diberdayakan, agar kualitas pendidikan dengan SBI lebih baik, bukan malah mundur karena guru-2 yang tidak kompeten.

KangBoed mengatakan...

NEGERI KAYA YANG MENYEDIHKAN.. YANG KAYA MAKIN KAYA.. MENENGAH KELELEP.. MISKIN JADI SUPER MISKIN
SALAM SAYANG

Tukang Komen mengatakan...

itulah dunia pendidikan kita, selalu timbul pengkotakan dalam hal pendidikan, ditengah maraknya kampanye sekolah gratis, muncul fenomena SBI yang nyata-nyata Betarif internasional, padahal banyak juga anak-anak negeri yang hanya mampu membayar tarif nasional bahkan lokal, mayoritas malah, trus bagaimana nasib anak-anak kita yang pandai tapi bertarif lokal? sungguh inilah ketimpangan pendidikan.