Aset yang Terabaikan

IPENDIDIKAN KARAKTER YANG MAKIN TEREDUKSI

You lose your wealth, you lose nothing

You lose your health, you lose something

You lose your character, you lose everything

Kalimat-kalimat dalam ‘The Nightmare of Loosing’, Lukisan karya A.D. Pirous;

dikutip I Gede Raka


Tidak ada yang memungkiri bahwa pendidikan sangat berperan penting terhadap pembentukan karakter suatu bangsa. Termasuk bangsa kita, yang pada hari ini hampir setiap institusi yang berkaitan dengan pendidikan mengadakan “ritual tahunan” yaitu upacara bendera. Upacara untuk memperingati hari bersejarah bagi dunia pendidikan di Indonesia yang semakin jauh dari tujuan mulia pendidikan itu sendiri, karena lebih banyak hanya membuat slogan dan simbol-simbol, tapi jauh dari implementasi riil. Sampai saat ini pendidikan kita masih memprihatinkan dan masih berkutat pada permasalahan internal seperti profesionalisme pendidika, sistem yang lemah, dan justru semakin menjauhkan dari nilai-nilai luhur bangsa yang sebenarnya merupakan aset yang tak ternilai untuk kemajuan itu sendiri.


Sebagai contoh permasalahan di kalangan pendidik. Program sertifikasi guru yang diharapkan mampu mengangkat citra dan profesionalisme pendidik, justru semakin membuat pendidik menghalalkan segala cara dan saling sikut untuk bisa ikut sertifikasi lebih awal. Memalsukan dokumen dan meninggalkan tugas mengajar untuk mengejar sertifikat sepertinya hal yang jamak dilakukan guru era sertifikasi ini. Apalagi kalau bukan tujuan kesejahteraan (duit). Tujuan profesional yang diharapkan justru tersingkirkan. Selain itu juga semakin menyingkirkan jiwa-jiwa guru yang penuh tauladan. Hingga mereka yang tidak lolos sertifikasi pun, tanpa rasa malu melakukan “demo” menuntut agar diluluskan semua. Toh bukti-bukti menunjukkan bahwa mereka yang telah mendapat sertifikat pendidik, tidak banyak mengupdate dirinya, tidak ada yang berubah dari cara mengajarnya yang konvensional, tetapi justru pola hidupnya yang semakin konsumtif. Sehingga ada sindiran yang sempat dilontarkan seorang konsultan pendidikan di Jakarta bahwa “guru batuk saja menuntut bayaran”. Hal tersebut tidak lepas dari pengambilan kebijakan yang keliru.


Sistem pendidikan saat ini terasa menjadi alat ”penyandera” anak didik, karena padatnya kurikulum, kurang memberi ruang bagi anak untuk belajar mengenal diri dan lingkungannya. Anak menjadi ”bank” tempat ”menabung kumpulan soal-soal yang harus siap diambil saat ulangan. Pendidikan hanya transfer ilmu pengetahuan saja tetapi semakin mereduksi pembudayaan dan pembentukan karakter bangsa. Sekarang jarang sekali dijumpai pendidikan yang meningkatkan kecerdasan emosi (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) yang mengajarkan: integritas, kejujuran, kepedulian, komitmen, kreativitas, ketahanan mental, kebijaksanaan, keadilan. Anak selalu didorong untuk memiliki kemampuan yang seragam, yang mereduksi nilai-nilai budi pekerti dan pluralitas (keragaman) sehingga menghasilkan bangsa yang sulit menghargai perbedaan.


Hasil reformasi justru membuat pendidikan makin terpuruk. Otonomi daerah menjadikan kebijakan pendidikan semakin membingungkan dan kacau karena banyak ditangani “raja-raja kecil” yaitu kepala daerah yang kadang menjadikan pendidikan untuk mempertahankan kekuasaan. Misalnya rekruitmen tenaga pendidik dan kepala sekolah yang asal-asalan. Perubahan kurikulum yang memberikan otonomi pada satuan pendidikan justru membingungkan praktisi pendidikan (guru), karena paradigma guru sulit berubah. Ujung-ujungnya mengalami siswa yang menjadi korban. Tak heran pendidikan tidak bisa menghasilkan output yang mampu mengatasi masalah bangsa, justru semakin terjerumus semakin dalam. Saat ini justru perilaku siswa yang semakin tidak terkendali. Siswa semakin kurang sopan, tidak hormat kepada orang tua, maupun guru. Toleransi dan kepedulian juga semakin hilang.


Kebijakan yang ada juga semakin membuat siswa “lemot” dalam hal tanggungjawab, integrtas dan daya juang. Sebagai contoh kebijakan UN sebagai satu-satunya penentu kelulusan menimbulkan berbagai kecurangan yang dilakukan oknum pejabat dan guru dengan dalih “membantu siswa”. Hal ini justru membuat siswa semakin tak berdaya dan tidak punya inisiatif dan tanggungjawab terhadap diri sendiri. Anak-anak sekarang cenderung malas belajar dan masa bodoh, karena selama ini anak di sekolah terbiasa ”diberi” bukan menemukan sendiri.


Hal inilah yang mengindikasikan bahwa dunia pendidikan kita telah mengalami pergeseran dari cita-cita luhurnya. Pendidikan semakin jauh dari nilai-nilai filosofis. Pada intinya pendidikan yang hanya menghasilkan manusia intelektual yang “buta hati” dan kering dari nilai-nilai moralitas dan etika. Oleh karena itu sebagai pendidik mudah-mudahan kita mampu mengembalikan pendidikan kepada kittahnya (meminjam istilalah yang sering digunakan pak Sawali). Pendidikan yang mampu membangun karakter bangsa yang luhur sejak dini. Yang berarti membangun sifat/perilaku yang didasari dimensi moral yang positif (baik), untuk membangun kehidupan yang baik, bermanfaat bagi dirinya, orang lain dan bangsa. Pendidikan yang tidak hanya menekankan output dan mengabaikan proses. Pendidikan yang tidak hanya mengutamakan hapalan pengetahuan di otak kiri, tapi juga mengintegrasikan nilai-nilai agama, moral, estetika, dan sikap-sikap positif lainnya. Intinya pendidikan harus mampu menumbuhkan IQ, EQ dan SQ peserta didik secara seimbang.

Siapa yang mau peduli….?

Mari kita mulai dari diri kita sendiri.

18 komentar:

JengSri mengatakan...

saya rasa banyak yang perduli mbak mul tapi gak tau bagaimana harus bertindak dan memulainya.banyak pihak terkait yang harus ikut membangun pendidikan di indo juga khususnya departemen pendidikan.

sawali tuhusetya mengatakan...

wah, saya suka banget dg tulisan2 kritis seperti ini, bu atik, apalagi ditulis oleh seorang guru yang paham betul bagaimana implementasi sistem pendidikan secara riil di lapangan. memang harus jujur diakui, pendidikan karakter sudah nyaris hilang dalam ranah pendidikan kita. mentalitas intan dan ingin meraih sukses secara cepat sudah mengakar kuat. dan repotnya, akar itu disemaikan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. dunia pendidikan yang sudah mulai goyah jadi makin tak berdaya menghadapi situasi anomali semacam itu. butuh sinergi semua pihak, dan saya sepakat dg bu atik, perlu ada perubahan paradigma dari diri sendiri dulu. lama-kelamaan akan menjadi koesadaran kolektif. salam kreatif!

pensiun kaya mengatakan...

makasih dah kunjungi blogku...
pendidikan karakter memang itu yang dibutuhkan saat ini. semoga guru bukan hanya jadi pengajar sebagai media transfer materi, tetapi yang paling utama, harus jadi pendidik sebagai pewaris nilai-nilai keteladanan.amin

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

Mungkin sudah saatnya pemerintah menyusun kembali formulasi yang tepat untuk sertifikasi guru. Karena permasalahan yang mbak atik ungkap sudah menjadi permasalahan nasional ditambah lagi dengan beban jam mengajar guru yang tidak mencukupi.

Mulyati mengatakan...

@Jeng Sri: itulah jeng repotnya kita (saya)... tah ndak bener tapi susah ndak bs berbuat banyk... tp insyaallah ada niat dr diri untuk berbuat lebh baik meskipun kecil...

@sawali: wah saya hanya belajar dari pak wali...belajar lbh peduli pak... dan setuju banget dengan yang bpk sampaikan
@pensiun kaya: sama-sama mas...
sayangnya tidak semua guru peduli dengan hal itu

Mulyati mengatakan...

@Bang iwan: Setuju pak... tapi kok kayaknya pemerintah cuek saja...anjing menggonggong kafilah tetap berlalu

Yudie mengatakan...

Semoga Pendidikan di negeri tercinta ini akan semakin membaik sejalan dengan cita-cita luhur Ki Hajar Dewantara.

Mulyati mengatakan...

Amien mas Yudie... Kita semua berharap seperti itu..

Ari mengatakan...

Tertarik Kalimat, Kehilangan Karakter/Jatidiri Maka kehilangan segalanya. Memang benar. Tapi untuk menjaga jati diri juga butuh perjuangan, pengorbanan. Tak sedikit dari kita yang mengorbankan jati diri karena ingin survive. Dan banyak contoh Orang yang teguh menjaga jati dirinya ia tenggelam. Baik itu ditenggelamkan secara paksa atau karena terpinggirkan. Tapi ada kalimat bijak untuk hal ini. Lebih baik mati dikenang, Daripada hidup tanpa nama.

Mulyati mengatakan...

@ Yah... setuju mas Ari, memang untuk mempertahankan jati diri butuh banyak pengorbanan. Tapi insyaallah kalau kita teguh komitmen juga bisa bertahan tanpa mengorbankan jati diri lho...

RJ mengatakan...

Bu, kalau anak didik dijadikan bank utk menampung soal apa itu otak nggak full memorinya. Kasihan ya, bayangin kalau dari SD sudah dipenuhi utk rekord dewasa memori penuh malah hang.

Mulyati mengatakan...

Lha memang yang terjadi sekarang otak anak sering hang mas...

suwung mengatakan...

kapan itu terwujud? dan apakah bisa terwujud di Indonesia?

Ariesvio mengatakan...

Semoga Makna Sertifikasi Benar-benar Terealisssi Ya Bu...Kawatir Sudah Dapat Tambahan Tunjangan Gak Da Tambahan Perubahan Sikap Dan Profesionalismenya...Semoga Teman Guru Tetap Bersemangat...Demi Anak Bangsa...Salam Sukses
Terima Kasih Atas Kunjungannya

Mulyati mengatakan...

@Suwung: kapan-kapan mas... (kata Koes plus)
@Ariesvio: Amiin pak budi, terimakasih juga kunbalnya

dadot mengatakan...

Buener Buanget!!! Saya sebagai seorang murid hanya mau ngomong
"I'm Not Animal Tested!"
COba kalo yang buat undang2 suruh balik kesekolah lagi, berani ga menghadapi peraturan yg dibuatnya sendiri?

Ronaldo Rozalino mengatakan...

Mau dimana kemana pendidikan kita saat ini ...

RUSGIANTO'S BLOG mengatakan...

Bu Mul pendidikan sekarang memang aneh. Ada ceritera menarik dari seorang guru:"Guru harus dapat "olah kata" dengan baik dan bukannya "olah tangan" uatamanya kepada siswanya". Guru "olah tangan" terhadap siswa ujungnya urusan dgn pak pol, tul nggak?
Nah guru"x" (mentang-mentang orang matematik) mengadakan ulangan bagi siswa, dan kertas soal diminta kembali, dengan membubuhkan NIS (Nomor Induk Siswa). Karena jengkel tak dapat bikin jawaban yang benar, seorang siswa nulis dibalik kertas soal: "gurune asu". Setelah diteliti ada 10 siswa tidak menuliskan NIS, setelah ditelusuri, kena 2 siswa, dan langsung orang tua dipanggil.
Guru "x" meberikan informasi kepada orang tua kedua siswa:
1. Bapak dan ibu kan mengetahui bahwa hewan tidak mungkin memberi pelajaran kepada manusia secara langsung, tetapi: 2. Manusia mengajar hewan adalah hal yang lumrah. 3. Kesimpulan karena sekolah tempat saya mengajar menurut SK Menteri Pendidikan bukan tempat mengajar hewan, maka sebaiknya Bapak/Ibu segera memindahkan puteranya ke tempat pembelajaran yang cocok.

Renungan:
1. Anak didik kita semakin tidak karuan.
2. Guru harus hati-hati dalam bertindak, salah-salah berurusan dgn aparat penegak hukum.
3. Perlu aturan penanganan siswa yang bertindak melampaui batas. Jangan sampai seperti aparat keamanan di negara kita ditakut-takuti oleh HAM, tetapi para teroris yang melanggar HAM justru dibela mati-matian.